Dengan ibu kos

Setelah 3 tahun nganggur akibat PHK akhirnya aku mendapatkan pekerjaan kembali dan aku diterima disebuah perusahaan swasta yang ditempatkan di Yogya yang berjarak sekitar 250 km dari kota asalku. Untuk sementara karena gaji yang masih kecil dan aku tidak mendapatkan fasilitas perumahan dari kantor, aku harus meninggalkan istri dan anaku yang masih berumur 5 tahun dirumah mertuaku dan aku harus kos. Sebulan sekali aku pulang, biasanya hari Jumat malam setiap awal bulan setelah terima gaji. Akupun harus mencari kos yang bayarnya miring. Setelah mencari2 akhirnya aku mendapatkan sebuah keluarga yang memiliki rumah khas Yogya yang cukup besar dengan 4 buah kamar dan ditinggali hanya sepasang suami istri. Anak tunggal mereka kuliah di Jakarta. Mereka menyewakan kamarnya dengan harga yang cukup murah. Karena mereka menerima aku hanya untuk menemani mereka yang hanya berdua dengan pertimbangan aku sudah berkeluarga sehingga disini hanya aku yang kos.

Pak Subroto adalah nama pemilik kosku yang akrab dipanggil dengan pak Broto adalah seorang pegawai negri sipil berusia 52 tahun. Sebenarnya dia lebih mirip serang anggota TNI karena bertubuh tinggi (182 cm) kekar dan berkumis tebal. Diusianya sekarang badannya masih kekar. Tampangnya sangar tapi orangnya ramah dan baik bahkan suka bercanda. Istrinya yang akrab di panggil bu Broto adalah seoarang ibu rumah tangga biasa yang sudah berusia 46 tahun. Orangnya lembut. Wajahnya biasa2 saja tapi karena kulitnya yang kuning bersih dia masih kelihatan menarik walau bentuk tubuhnya sudah tidak ramping lagi tapi perutnya tidak terlihat buncit layaknya ibu2 seusia dia mungkin karena tingginya yang 162 cm dan dia rajin minum jamu jawa. Kelihatannya mereka adalah pasangan yang serasi dan merekapun sangat baik terhadapku membuat aku betah kos dirumah mereka sehingga tidak terasa sekarang sudah bulan ke enam aku kos disini.

Malam itu hari Sabtu sekitar pukul 01.40 aku terbangun karena berasa mau pipis dan akupun melangkah ke kamar mandi yang letaknya agak dibelakang. Hampir semua lampu dirumah ini dipadamkan kecuali diruang makan yang menyala itupun hanya lampu yang 5 watt. Saat aku menoleh bagan depan rumah, mataku tertuju pada sinar lampu yang agak terang yang keluar dari celah pintu kamar bapak dan ibu Broto yang sedikit terbuka. Timbul isengku ingin melihat apa yang terjadi didalam kamar itu. Akupun menunda kekamar mandi dan pelan2 mendekati celah pintu yang sedikit terbuka itu. Di dalam kamar ternyata aku melihat pak Broto dan istrinya sama2 telanjang. Rupanya mereka akan melakukan hubungan suami istri. Entah aku ketinggalan episode awalnya atau tidak, aku ngga tahu, aku ngga melihat mereka melakukan warming up. Yang aku lihat adalah saat posisi bu Broto sudah telentang memperlihatkan tubuhnya yang masih mulus walau tidak langsing lagi dengan gundukan memek yang tertutup bulu jembut yang lebat sedang suaminya sudah berlutut diantara kedua pahanya dengan memegangi kemaluannya yang berukuran sesuai tubuhnya yang tinggi besar untuk diarahkan ke memek bu Broto.

Aku kagum dengan ukuran kemaluan pak Broto, akupun berdebar menunggu permainan mereka yang aku yakin seru. Aku membayangkan bu Broto bakalan menjerit2 kenikmatan kayak di film2 bokep saat senjata pak Broto beraksi dan diam2 burungkupun mulai naik.

Pak Broto mulai menempelkan kemaluannya ke memek istrinya “Pelan2 aja ya pak, biar lama…” terdengar pelan suara bu broto saat saat kemaluan pak Broto menempel di memeknya dan dibalas dengan anggukan suaminya dan pak Brotopun terus menekan masuk kemaluannya dan…….aaaahhhhh……terdengar suara mereka bersamaan.
Sesaat pak Broto menahan kemaluannya didalam memek istrinya. Sesaat kemudian dia mulai pelan2 memaju mundurkan pantatnya yang disambu dengan desisan istrinya….sssh….sshh….mungkin belum lebih 15 x pak Broto secara pelan2 mengayunkan pantatnya dan tiba2 dia mempercepat dan semakin cepat gerakannya dan diapun mengerang panjang …..hhhgghh….aku nda kuat deee…aahh…. sambil menekankan pantatnya rapat2 kememek istrinya sebentar kemudian tubuh pak Broto ambruk diatas tubuh istrinya. Aku melihat bu Broto agak kesal dan mencubit pantat pak Broto tapi dia ngga protes apa2, mungkin adat yang membuat seperti ini. Akupun kecewa karena pertunjukannya hanya sebentar dan akupun segera melangkah pelan menuju kamar mandi untuk kencing dan kembali tidur.

Jam 8 pagi aku baru bangun karena hari Sabtu aku libur kerja. Akupun langsung ke wastafel untuk gosok gigi. Pak Broto sudah berangkat kerja di kamar mandi ada bu Broto yang sedang mandi. Ketika aku selesai gosok tiba2 dari kamar mandi terdengar suara bu Broto ” Aduuhhh….” Akupun segera mendekati pintu kamar mandi dan dari luar aku bertanya ke bu Broto ” Kenapa bu ? ”
” Oh nda apa2 de Budi, cuma daster sama pakaian dalam ibu yang jatuh dan kesiram air….” jawab bu Broto dari dalam kamar mandi
” Ooh, saya kira ada apa…..” akupun segera menjauh dari pintu untuk melanjutkan nyeduh kopi.

Sesaat kemudian bu Broto keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk yang agak kekecilan ditubuhnya dan tangannya memegangi ikatannya takut lepas. Biasanya dia tidak pernah melakukan ini, keluar kamar mandi selalu sudah memakai daster, makanya dia setengah berlari apalagi saat melihat aku sedang nyeduh kopi didapur dia semakin gugup dan sambil menunduk dia tersipu ” maaf..maaf de Budi”.
Saking gugupnya dia tidak melihat ada bangku kecil didepanya dan ….brukk!!…aduh!!….dan bu Brotopun sempoyongan hampir terjatuh dan tentu saja dia melepaskan tangannya dari handuknya untuk menggapai pegangan agar tidak jatuh, tentu saja handuknya terlepas dari tubuhnya. Secara refleks aku yang ada didepan bu Broto menangkap tubuh telanjang bu Broto dan akupun memeluk tubuh sintal bu Broto. Tinggi kami hampir sama dan wajahnya pas didepan wajahku. Sesaat aku dapat melihat dengan jelas wajah cemas bu Broto yang sudah mulai ada kerutan di sekitar matanya tapi masih menarik dan bu Brotopun mulai sadar kalau dia telanjang dan hendak melepaskan diri, tapi aku malah mengetatkan pelukanku dan aku memberanikan diri mengecup bibirnya
” De Budi ! apa yang kamu lakukan, kamu jangan kurang ajar..” dia marah dan memberontak hendak melepaskan pelukanku tapi aku semakin ketat memeluknya
” Bu, saya tahu yang terjadi semalam antara ibu dengan bapak….” kataku
” Maksudmu ?” bu Broto berhenti berontak dan memandangku penuh selidik
” Ibu semalam kecewa sama bapak, karena bapak selesai duluan tapi ibu entah malu atau tidak berani untuk protes sehingga ibu hanya memendam kekecewaan. Apa setiap kali selalu begitu bu ? ” tanyaku pelan. Entah dia malu atau memang memendam lama kekecewaan dan sesuai yang aku katakan tiba2 dia menangis dan malah memeluku dan aku hanya membiarkan dia mengis di bahuku, setelah bisa menguasai diri melepaskan pelukannya dan akupun tidak menahannya lagi sehingga dia dapat memungut handuknya yang terlepas dan menutupkannya kembali ke tubuhnya, dia bilang :

” Aku memang nda pernah merasakan kenikmatan sex. Hanya bapak yang selalu merasa puas karena dia selalu selesai duluan, bagaimana kalau istri de Budi ? ” Aku ngga menjawab tapi kembali aku menarik tubuh bu Broto dan mencium bibirnya kini dia ngga melawan tapi juga tidak membalas ciumanku tapi saat mulai mencium dan menjilat bagian bawah telinganya dia agak mendesis dan saat aku kembali mencium bibirnya dia mulai membalas tapi agak kaku. Sambil berciuman pelan2 aku membimbing dia kekamarku dan dia tersadar saat aku rebahkan tubuh sintalnya ke kasurku dan melepaskan ciumanku ” De Budi mau ngapain ? ”
Dengan tidak melepaskan pelukanku aku berbisik didekat telinga bu Broto ” Saya mau membuat ibu merasakan kenikmatan sex ”
” Tapi ibu sudah tua de Budi..” protesnya
” Tapi ibu belum terlambat untuk menikmatinya…” kataku sambil tanganku membuka ikatan handuknya sehingga nampaklah tubuh telanjang bu Broto.
Akupun segera membuka pakaianku. Payudarnya walau agak kendor masih menarik bahkan terasa lembut saat aku merabanya dan pelan2 lidahku mulai menjilati payudara bu Broto, mata bu Broto terpejam menikmatinya dan kedua tangannya ditelentangkan memperlihatkan ketiaknya yang mulus. Bergantian aku menjilati payudaranya sambil tanganku mengelus2 gundukan jembutnya. Kedua paha panjang dan gempalnya mulai dibuka dan jarikupun mulai merayap ke dalam memeknya yang mulai becek dan pahanya semakin lebar dibuka sambil mulutnya mendesis….ssshh….ssshh…hhhhh….mengikuti gerakan jariku.
Ciumanku mulai merayap turun ke perutnya ….aaahhh….. dia menahan geli bercampur nikmat saat lidahku aku mainkan dipusarnya dan kedua tangan memegangi kepalaku dan lidahku terus merayap ke gundukan jembutnya, tiba2 dia bangun dan menahan kepalaku ” Mau diapain ? ” tanyanya. Aku kembali hanya tersenyum sambil mencium pipinya dan berbisik ” Aku mau buat ibu terbang” dan dengan lembut aku baringkan kembali bu Broto dan kembali aku mainkan lidahku digundukan jembutnya tapi aku tidak langsung menjilati klitnya aku hanya menjilati selangkangannya. Memeknya semakin becek dan akupun mulai menjilati klitnya…..aaahhh…..tertahan suara bu Broto sambil kedua tangannya memegangi kepalaku pantatnya terus goyang mengikuti gerakan lidahku di klitnya, pantatnya diangkat tinggi2 dan kedua tangannya kuat2 memegangi kepalaku bahkan kadang menjambak rambutku apalagi saat lidahku dengan cepat berputar diklitnya dan dia menekan kuat2 kepalaku ke memeknya, aku tahu dia mau orgasme, makanya aku terus putar dengan cepat lidahku di klitnya, tiba2 tubuhnya bergetar dan sesaat kemudian aku rasakan ada cairan hangat membasahi daguku dan tubuh bu Brotopun diam, perlahan aku angkat kepalaku dan aku lihat nafas bu Broto terengah2 dadanya naik turun dengan cepat tapi mulutnya tersenyum padaku. ” Baru sekali ini aku merasakan enaknya orgasme ” Katanya sambil memelukku ” Ayo sekarang gantian de Budi ”
” Ibu pernah ngisep burung bapak ?” tanyaku
” Ngga pernah karena kalau diisep bapak cepat sekali keluarnya…..”
” Bagaimana kalau coba punya saya, tapi jangan dihina ya, ounya saya ngga sebesar punya bapak….” candaku dan bu Broto hanya tertawa kecil sambil mendorong tubuhku dan diapun mulai menyedot2 burung, masih kaku caranya tapi lama2 dia mulai memakai lidahnya.

Akupun ngga mau diam, aku tarik paahanya agar memeknya berada diatas mulut dan akupun bisa menjilati memeknya yang sudah becek jadi semakin becek bahkan sampai mengalir ke hidungku akupun semakin bernafsu menjilati memeknya dan demikian juga bu Brotopun. Ketika dia semakin kencang mengoyangkan pantatnya dimulutku dan akupun semakin bernafsu aku minta dia segera memasukan burungku dengan posisi dia diatas dan karena kami sudah sangat bernafsu hanya 5 menit kemudian kami bersamaan keluar dan bu Broto orgasme dengan sangat hebat dengan posisi dia diatas sampai dia berteriak kuat2.
Acara seperti ini menjadi rutin setiap Sabtu pagi, yakni disaat aku libur dan pak Broto pergi bekerja.
———-

Perselingkuhanku dengan bu Broto sudah berlangsung mulus selama 3 bulan. Kami sepakat, untuk menjaga keamanan nasional, kami melakukannya hanya setiap Sabtu pagi disaat aku ngga pulang kampung. Kini bu Broto melakukannya sudah tidak sungkan2 lagi. Lebih gilannya lagi setiap Jumat malam Sabtu aku diminta mengintip dia bersetubuh dengan suaminya. Untuk memperlihatkan bahwa dia ngga pernah orgasme dengan suaminya yang hanya sebentar dan langsung tidur.

Seperti halnya yang kami lakukan Sabtu pagi ini. Kami melakukan dengan penuh nafsu. Permainan bu Broto kini semakin berani, dia sudah mulai mahir memainkan lidahnya dikemaluanku. Diapun sudah ngga malu2 lagi mendesah keenakan dan mengerang disaat orgasme. Untung rumah sepi jadi suara kami tidak terdengar oleh siapa2. Hampir dua jam kami melakukannya pagi ini. Aku sampai dua kali ejakulasi sedangkan bu Broto lebih dari 6 x.

Setelah selesai kami melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan hanya bertelanjang bulat. Baru saja kami menutup kamar mandi, tiba2 terdengar agak keras orang mengetuk pintu. Aku terkejut, “Wah, jangan2 pak Broto pulang, tapi kok suara Vespanya ngga kedengaran…” Aku langsung memakai celana pendek dan kaosku dan segera keluar kamar mandi, sedang bu Broto tetap didalam pura2 sedang BAB. Baru selangkah dari pintu kamar mandi kembali terdengar TOK, TOK, TOK !!
Kini suaranya lebih keras dari yang pertama, ” Ya.. sebentar ” teriaku sambil berlari kearah pintu depan dan saat aku melewati kamar bu Broto yang berantakan aku sempatkan menutup pintunya.

Pintu depan segera aku buka (ternyata kami lupa menguncinya) dan didepan pintu ternyata berdiri seorang wanita berwajah manis berkulit bersih (sedikit lebih gelap dari warna kulit bu Broto) mengenakan celana jeans ketat yang membungkus pantat dan paha yang masih indah dengan paduan baju longggar berwarna krem dengan assesori ikat pinggang besar. Dari wajahnya, usianya sekitar diatas 40 an. Disampingnya ada sebuah koper pakaian. Kayaknya baru datang dari luar kota.
” Mana mbak Tati (nama bu Broto) ?! ” tanyanya agak keras, seperti orang kesal.
” Maksud mbak bu Broto ? beliau sedang dikamar mandi, mbak siapa ya ? ” tanyaku masih mencoba bersopan santun.
” Saya Resti adiknya mas Broto yang dari Surabaya ” jawabnya ketus.
” Oh, eh silakan masuk mbak Resti..” aku agak gugup dan mempersilakannya masuk.
” Siapa de Budi ? ” tiba2 bu Broto berteriak dari belakang setelah keluar dari kamar mandi dan melangkah keluar ” Waah ada tamu jauh to, loh Res, kamu mau datang kok ngga kasih kabar dulu biar kami jemput, de Budi ini Resti adik kandung satu2nya pak Broto, Resti ini Budi yang kos disini…eh de Budi tolong bawain kopornya mbak Resti ke kamar tengah. ” mereka pun berpelukan saling menyapa dan akupun menenteng kopor mbak Resti ke kamar tengah selanjutnya aku kekamar mandi dan pura2 tiduran membiarkan mereka saling kangen2an akhirnya akupun tertidur beneran bangun2 ketika ada yang mengetuk pintu kamarku ” de Budi, de Budi…” suara pak Broto memanggilku dan melihat jam dinding baru jam 11.17 padahal biasanya pak Broto pulang sekitar jam 1, aku kaget dan bingung ” Wah ada apa lagi nih, jangan2 pak Broto tahu hubunganku dengan istrinya dan dia panggil adiknya untuk menyelesaikannya…wah gawat nih ” pikirku bingung tapi tanganku tetap membuka pintu kamarku ” Wah maaf nih de Budi bapak ngganggu istirahatnya, anu…bapak mau ke Cirebon sama atasan bapak sampai hari Rabu dan ditunggu di Terminal, tolong anterin bapak ya de Budi, nanti Vespanya de Budi bawa pulang. ” kata pak Broto dan membuat hatiku lega,

” Bisa, bisa pak sebentar saya cuci muka dan ganti baju dulu…” jawabku spontan.
” Ya de Budi makan dulu saja baru kita berangkat…”
Setelah mengantar pak Broto aku ngga langsung pulang, tapi nonton bioskop dulu, pulang2 jam 5.30 sore dan langsung mandi, aku sekilas melihat bu Broto dan mbak Resti lagi ngobrol sambil nonon TV.
” De Budi sini dulu de ” bu Broto memanggilku dari dalam saat aku keluar dari kamar mandi.
” Ya sebentar bu, ” jawabku sambil masuk kamar dan menyisir rambutku kemudian mendekati mereka yang sedang duduk disofa panjang yang memang satu2nya tempat duduk depan TV.
” Ini, Resti mau bicara denganmu” kata bu Broto begitu aku berdiri didekat mereka dan aku lihat mbak Resti yang mengenakan piyama batik dan kelihatan lebih segar dari ketika dia datang, menggeser duduknya supaya aku bisa duduk disampingnya dan dia sekarang berada ditengah. ” Silakan duduk disini de Budi ” dan akupun duduk disampingnya.
” Begini de Budi, saya adalah teman dari kecil dengan mbak Tati, usia kami hanya beda 1 tahun, saya lebih muda dan saya menganggap dia sebagai kakak kandungku sendiri dan diantara kami sudah ngga ada lagi rahasia2an dan mas Broto juga mengenal mbak Tati ini sejak kecil walaupun mereka tidak akrab. Saya tahu, mbak Tati ini orangnya sangat setia pada suami…” kata mbak Resti begitu aku duduk disebelahnya dan kata2 terakhirnya yang terputus membuatku berdebar2 dan aku hanya bisa diam menanti lanjutannya.
” Saya benar2 bingung dan kaget dia bisa berselingkuh dengan de Budi…” kembali kata2nya terhenti dan matanya tajam menatapku yang kaget dan kebingungan.
” Mmmaksud mbak…? ” aku pura2 bloon dan mataku minta bantuan ke bu Broto, tapi dia asyik nonton TV.

” Saya tahu apa yang terjadi tadi pagi karena pintu depan lupa dikunci begitu juga kamar tidur yang terbuka sehingga aku bisa nonton adegan seru kalian dan tadinya aku ngga percaya sama mbak Tati tapi tadi kami sudah ngobrol dan ternyata kami mempunyai masalah yang sama . ” lanjut mbak Resti
” Sudah 2 tahun lebih suamiku menderita diabetes kronis dan dia sudah ngga bisa berbuat apa2 denganku…” suara mbak Resti mulai pelan
” Sekarang aku mau buat kesepakatan dengan de Budi, aku akan diam tidak melaporkan ke mas Broto tapi de Budi harus melakukan yang sama seperti de Budi melakukan mbak Tati, mau ? ”
Kembali mataku minta pertolongan bu Broto, kali ini dia menolongku, sambil tersenyum dia mengangguk2an kepalanya tanda setuju tapi timbul keisenganku sama mbak Resti.
” Terus saya harus berbuat apa ? ” aku pura2 bertanya
Tiba2 mbak Resti mendekati telingaku dan berkata pelan ” aku juga ingin dipuaskan seperti mbak Tati tadi pagi ” tangan kanannya langsung mengelus kemaluanku yang hanya mengenakan celana pendek tanpa CD. Tangan kananku langsung menarik pinggangnya sehingga mbak Resti duduk dipangkuanku dan mbak Resti langsung menciumi bibirku tanpa ada perasaan risih ada bu Broto disampingnya, sedangkan bu Broto hanya pura2 batuk ” ehem…ehem…dah sana didalam…”

Tapi mbak Resti ngga nggubris dia terus mencium bibirku penuh nafsu terdengar dari nafasnya yang memburu, aku melirik ke bu Broto dan dia nampak tegang sambil pura2 nonton TV tapi matanya sebentar2 melirik kearah kami. Aku yakin baru kali ini dia melihat secara langsung sepasang laki2 dan perempuan berciuman dengan penuh nafsu apalgi kini mbak Resti sudah membuka baju piyamanya dan pantatnya terus digayang2kan di kemaluanku, ternyata dia ngga pakai bra sehingga payudaranya yang berkuran sedang dan sudah mulai turun menantang untuk diraba dan dihisap, sesaat aku perhatikan ada yang berbeda dengan punya bu Broto, puting payudara mbak Resti masih kecil kayak wanita yang belum punya anak, tangan kananku mulai meraba payudaranya ternyata masih kenyal. “…aahh…” desahnya disaat tanganku meraba payudaranya dan tangan kirinya membantu menekan tanganku supaya aku meremas lebih keras payudaranya, tangan kanannya menarik kepalaku supaya aku menghisap payudara kirinya dan desahannyapun makin keras disaat lidahku menjilat2 di putingnya. Sambil menjilat mataku melirik bu Broto yang semakin gelisah tapi aku ngga peduli lidahku terus aku mainkan di payudara mbak Resti dan membuat dia semakin bernafsu. Kini dia turun dari pangkuanku dan berlutut didepanku dan tangannya langsung melorotkan celana pendeku hingga terlepas dan tentu sala kemaluanku yang sudah tegang dari tadi langsung menyembul keluar sebentar mbak Resti mengelus2 kemaluanku dan dia menarik sedikit posisi duduku supaya lebih melorot dan dia mengarahkan mulutnya kearah biji pelerku dan lidahnya bermain2 disini, permainan lidah mbak Resti lebih berpengalaman dari bu Broto terasa lebih halus demikian juga saat lidahnya mulai bermain dibatang kemaluanku sampai aku ngga bisa nahan suara kenikmatanku

“…aagghhh…” dan ketika sambil menahan nikmat tanganku meraih tangan bu Broto yang sedari tadi terlihat hanya tegang aku merasakan tangannya sedikit gemetar dan saat dia menoleh kearahku aku melihat mukanya agak merah, ngga tahu apa karena malu atau nafsu atau karena keduanya. Sebentar bu Broto memandangku dan aku menarik tangannya supaya dia lebih mendekat kearahku dan diapun menggeser duduknya dan aku bisa meraih bahunya kemudian mencium bibirnya yang juga gemetar tapi dia langsung membalas ciumanku dan nafasnya makin memburu saat tangan kananku meraih payudaranya yang juga tanpa bra dan kami bertigapun sudah sangat dibakar nafsu birahi.
Sesaat kemudian kami bertiga sudah tidak ada lagi yang mengenakan pakaian dan sudah pindah kekamar bu Broto, yang lebih agresif adalah mbak Resti, mungkin karena sudah lebih dari 2 tahun dia ngga dipuaskan suaminya jadinya sekarang seperti kehausan. Kini dia sudah berbaring di tempat tidur dan minta aku menyetubuhinya, tapi aku mau membuat dia lebih bernafsu supaya cepat orgasme karena ku masih menghadapi lawan satunya yakni bu Broto. Aku memang merangkak keatas tubuh mbak Resti sedang bu Broto kembali sebagai penonton, aku hanya mencium sesaat bibirnya kemudian lidahku merayap ke payudaranya sebenta bermain dikedua payudaranya sambil tangan kananku mengelus gundukan memeknya yang berbulu tipis, jilatanku merayap keperutnya dan bermain dipusarnya kemudian ke selangkangannya tapi aku ngga menjilat memeknya membuat mbak Resti penasaran, aku justru membalikan tubuh mbak Resti supaya tengkurap dan aku menciumi punggungnya terus turun ke kedua bongkahan pantatnya disini kadang aku menggigit pelang pantatnya membuat desahannya semakin keras aplagi saat lidahku mulai bermain dipaha bagian dalamnya dengan sedikit gigitan kecil membuat dia mengangkat pantatnya minta memeknya yang sudah sangat basah untuk dijilat dan tidak langsung menjilat memeknya aku terus menjilat bagian samping luar memeknya dan ini membuat pantatnya lebih tinggi terangkat dan pahanya lebih lebar terbuka dan akupun mulai memasukan kepalaku diantara kedua pahanya sambil mengadah keatas menghadap memeknya dan mulai menjilat klitnya dan cairan kentalnyapun makin banyak keluar sampai menetes ke daguku. Kedua tangan mbak Resti meremas sprei dan mulutnya terus mendesis bagai ular tiba2 tangannya menarik paha bu Broto dan mulutnya langsung menyergap memek bu Broto yang juga sudah basah, tiba2 mulut mbak Resti mengerang dan pantatnya memeknya ditekankan kuat2 ke mulutku sambil badannya bergetar “..bbud aku kkluarr..” dan dagukupun semakin basah tersiram lendir mbak Resti yang banyak mengeluarkan lendir. Sesaat diapun tergeletak dikasur dengan nafas memburu sedang bu Broto yang dari tadi juga sudah naik nafsunya oleh jilatan maut mbak Resti langsung naik diatas tubuhku memasukan kemaluanku ke liang memeknya dan langsung menggoyang dari atas. Ruapanya mbak Resti ingin membuat sensasi lain dia kembali bangun dan meraih payudara bu Broto dan langsung menghisapnya membuat bu Broto berteriak kecil menahan nikmat dan tangan kiriku yang nganggur langsung mengarah ke memek mbak Resti yang sedikit terbuka dan langsung aku masukan kedalamnya, memek mbak Resti sangat licin akibat orgasme tadi dan akibat sentuhan jariku dimemeknya nafsu mbak Resti bangkit lagi dan diapun menjilat payudara bu Broto dengan sangat bernafsu membuat bu Broto semakin tinggi melambung dan sebentar kemudian goyangannya semakin liar dan semakin liar dan diapun mencapai klimaksnya dan ambruk yang segera diaganti mbak Resti . Kali ini mbak Resti memperlihatkan kemahirannya diatas ranjang dimenggoyang dengan lembut tapi pasti membuat kemaluanku seakan dipijat2 dan dan membuat aku tidak tahan untung rupanya mbak Resti bukan pemain yang lama diapun sudah tidak beraturan goyangannya dan akhirnya aku keluar duluan disusul beberapa detik kemudian mbak Restipun orgasme. Dan kamipun tertidur kecapaian.

About darahse

semua suka
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s